25.8.10

Indonesia dan Malaysia : Benarkah ada Konflik?

Saya terus terang bingung dengan aksi dan reaksi yang terjadi beberapa tahun belakangan ini mengenai hubungan Indonesia dan Malaysia. Dimulai dari pemberitaan klaim-klaim mengenai budaya, wilayah kedaulatan sampai berita klaim tentang makanan. Banyak sekali slogan-slogan yang muncul didasari dengan kebencian terhadap Malaysia, "Ganyang Malaysia","Anti-Malay", "Malingsia" dan berbagai slogan lainnya yang ramai dibicarakan di media dan dunia maya. Sebenarnya apa sih yang kita cari? Apa yang kita inginkan? Perang dengan Malaysia? Apa? Saya juga bingung.


Dimulai dari pemberitaan mengenai klaim tari pendet yang sampai saat ini masih sering diungkit-ungkit. Mungkin masyarakat Indonesia perlu membaca lebih banyak agar mengetahui perkembangan yang ada. Tari pendet itu tidak diklaim. Berdasarkan peraturan hukum, klaim dilakukan pihak yang berotoritas dengan hitam diatas putih. Artinya harus ada surat resmi dari pihak berotoritas (dalam hal ini pemerintah) yang menyatakan bahwa tarian Pendet diklaim sebagai miliknya. Sekarang, apa ada surat tersebut? TIDAK ADA! T
arian pendet itu keluar di sebuah iklan Discovery Channel. Pihak pembuat iklannya pun telah meminta maaf dan menarik iklan tersebut. So, why it still rise?

Batik Indonesia

Batik Malaysia


Klaim batik. Hahaha, konyol! Semestinya kita lihat dahulu, betapa berbedanya batik Indonesia dan Batik Malaysia. Hanya saja bahasa sebutannya sama-sama batik. So, apa yang diklaim? toh batiknya berbentuk berbeda meskipun judulnya sama. Yah, itu kembali lagi ke pemikiran masing-masing.


Hm, apalagi. Reog Ponorogo. Dikatakan Malaysia telah mengklaim Reog sebagai tariannya. Tahu Barongsai kan? Barongsai itu asalnya dari China. Ketika Barongsai ditarikan oleh orang Indonesia, apakah negara China marah dengan menuntut Indonesia mengklaim tariannya? Tidak! Sama halnya dengan tarian Reog tersebut. Para penari tarian Reog di Malaysia itu adalah orang asli Indonesia. Mereka adalah orang-orang keturunan Jawa Timur yang berniat luhur, menarikan tarian Reog tersebut untuk melestarikan budaya nenek moyangnya. Akan tetapi, timbul image di kalangan masyarakat Indonesia bahwa Malaysia telah mengambil tarian Reog. Lha wong yang menari orang Jawa Timur yang berada di Malaysia. Ckck..


Ayo, apalagi yaa..
Oya, Ambalat! Haha. Seingat saya, dulu pernah si mbak Manohara menyatakan dengan keras bahwa "We have to save Ambalat Island from Malaysia, before it is claim by them". Eits, ntar dulu mbak. FYI, Ambalat itu bukan sebuah pulau. Sekali lagi, BUKAN PULAU. Ambalat adalah wilayah perairan diantara Malaysia dan Indonesia. Bagaimana mau protes sana-sini ke pemerintah kalau sebenernya kita tidak tahu duduk persoalannya? Sama seperti wilayah perairan lainnya, wilayah perairan Ambalat ini masih menjadi perundingan. Setiap negara pasti ingin mempertahankan wilayahnya, baik Indonesia maupun Malaysia. Ya, inilah yang menyebabkan sampai sekarang masalah perbatasan masih menjadi sebuah pending job bagi pemerintah.

Jadi intinya apa sih yang diributkan? Apa benar ada konflik? Mungkin kalau kita lebih berfikir secara intelektual dan diplomatis, api itu dapat mengecil.

Pis-lop-en-gaol.

24.8.10

Indonesia itu sudah merdeka?

65 tahun kemerdekaan itu bukan waktu yang sebentar. Mungkin kalau dianalogikan dengan manusia, 65 tahun itu umur yang sudah tua, tetapi tidak bagi sebuah negara. 65 tahun itu masih sangat muda. Saya rasa 65 tahun sebuah negara masih sama seperti 17 tahun usia manusia. Masih segar, masih bersemangat, masih menggebu.

Kebanyakan dari tulisan blog, kolom pembaca ataupun artikel tentang kemerdekaan yang saya baca, mereka bersifat skeptis. Mereka berfikiran bahwa Indonesia belum sepenuhnya merdeka dari jajahan. Indonesia itu bereputasi buruk. Indonesia itu masih banyak koruptornya. Indonesia itu ini Indonesia itu itu. Banyak sekali pandangan negatif yang saya serap dari tulisan-tulisan kemerdekaan Indonesia. Mereka mengeluh belum merasakan kemerdekaan Indonesia.

Mungkin saya berbeda. Saya merasakan Indonesia itu sudah merdeka.

Memulai hidup saya dari tahu 90 sampai 2010, saya merasakan Indonesia itu sudah merdeka. Saya bisa pergi ke sekolah dengan aman, saya bisa bermain di luar rumah saya bahkan saya bisa berkuliah di luar negeri seperti sekarang. Coba bandingkan dengan apa yang dialami oleh para kakek nenek kita yang hidup di zaman penjajahan. Dahulu, almarhumah nenek saya pernah bercerita bahwa sekolah itu hanya untuk golongan yang kaya, nigrat dan berstatus sosial tinggi. Tidak hanya itu saja, sekolah juga terkadang tidak aman. Apabila terdengar alarm Jepang, mereka semua harus menghentikan kegiatan sekolah. Berlarian apabila terdengar suara bom atau tembakan, bersembunyi di balik pagar apabila ada tentara lewat. Sekarang? setiap anak bisa berlenggok pergi ke sekolah. Tidak ada perbedaan status yang harus difikirkan. Mungkin kalau status nigrat masih menjadi saringan masuk sekolah, saya berada di kolong jembatan sekarang. Tidak ada bunyi alarm yang ditakuti, malahan bunyi alarm itu menjadi bunyi favorit (alarm tanda pulang sekolah). Lalu, apa kita belum merdeka?

Menilik balik buku sejarah masa SD saya, disitu tertulis dimana sebagian besar para remaja lelaki akan ditarik untuk bekerja paksa, kerja rodi atau romusha. Sebagian lagi para remaja lelaki akan menjadi tentara tambahan Jepang. Mereka dipaksa untuk membantu tentara negara lain membela negara lain. Sekarang? masuk TNI atau Polri itu suka rela. Para remaja lelaki zaman sekarang pun tidak ada yang diminta kerja paksa oleh negara lain. Tidak ada. Semua kita lakukan secara sukarela. Apa Indonesia masih belum merdeka?

Indonesia itu menurut saya sudah merdeka. Bebas dari belenggu penjajahan. Bebas untuk berekspresi. Ya Merdeka ..

Saya rasa, sikap skeptis orang menilai kemerdekaan, karena mereka menganggap kemerdekaan itu dimana kemiskinan hilang, pendidikan gratis, semuanya gratis, hidup mudah.

Tapi apa itu penilaian kemerdekaan sebenarnya? Memang penilaian itu bersifat objektif, tergantung yang menilai. Kalau mereka menilai bahwa Indonesia belum merdeka, maka sebenernya mereka sendiri yang belum merdeka. Perasaan dan pikiran mereka yang belum merdeka. Sedangkan Indonesia sudah lama merdeka.

Mengatasi kemiskinan itu memang sudah menjadi tugas pemerintah. Namun, pemerintah itu mungkin jumlahnya hanya sepersekian persen dari jumlah rakyat Indonesia yang berkisar 200 juta. Bagaimana bisa? berarti satu pegawai pemerintah bisa memegang ratusan masyarakat miskin. Mustahil. Sedangkan pegawai saja belum tentu mendapatkan gaji yang layak. Hahaha. Konyol memang. Setiap saya menyaksikan acara televisi, mereka meminta bantuan pemerintah. Ironis. Menurut pandangan saya, sesama masyarakatlah yang tidak memiliki kepedulian. Sesama manusia. Terlepas dari status pemerintah atau bukan. Dengan kepedulian sesama bukannya kita bisa saling terbantu? Kalau di tv2 saya sering mendengar, "Mohon bantuan pemerintah", maka yang sebenarnya mampu membantu tidak akan tergerak. "Lha wong mereka minta bantuan pemerintah, bukan saya". Sikap apatis itu masih ada, dan masih terasa. Coba bayangkan, bila satu orang mampu menolong satu orang tidak mampu, maka kemiskinan dapat berkurang.

Jadi inti dari panjang lebar tulisan ini adalah Indonesia itu sudah merdeka, tapi kebanyakan orang-orangnya merasakan belum merdeka. Ya, namanya manusia, tidak akan pernah puas dengan apa yang didapatkan. Jadi masih banyak diantara kita yang merasa Indonesia belum merdeka. Menurut saya sih sudah. Terserah pendapat anda.

5.8.10

Saya dan Masker Cokelat saya.

Bengong lagi maskeran, akhirnya saya memutuskan untuk berfoto-foto aneh.




Nampak seperti belut cina bumbu cokelat.

Mencoba gaya anak muda terkini. Eksis dgn kacamuka.



Mencoba gaya manohara, namun malah terlihat seperti orang idiot berkacamata



Seperti kerang bakar saus tiram, daging kerangnya terbuka sendiri kalau sudah matang.



Banyak-banyak baca yassin ya setelah lihat ini ..




Poppoy, popapoy appoy. (despicable me cacat)




Come, come here closer, i kiss you (lbh tepatnya saya sedot ubun2mu)

Salam perdamaian. Saya alien planet donald. Pluto itu anjing saya.




terlihat seperti gurita hidrosepalus.




Mencoba menjadi wanita berdada besar. Menyeramkan ..



Ya, seperti itulah muka muka aneh yang merupakan bintang tamu pada blog malam ini. Trims trims trims. Marilah kita mencuci muka setelah masker cokelatnya kering.


HORRAY :)

Sebentar lagi Puasa

Gak terasa bentar lagi masuk bulan Puasa ya. Dari jaman es de, gue inget banget yg namanya puasa itu menahan hawa nafsu dari sebelum matahari terbit, sampai matahari terbenam. Hawa nafsu gue yang paling besar adalah makan.

Dari dulu gue punya penyakit Syndrome-ngemil-depan-kulkas-malem-hari. Gejala ini timbul dari sejak sd, dimana pada malem hari ketika semua orang di rumah tertidur lelap, gue keluar kamar terus ngemil di depan kulkas. Kulkas itu kaya' surga bagi gue, banyak makanan dan dingin. Bokap nyokap udah tau kebiasaan gue ini. Tapi mereka (yang kamarnya gk jauh dgn dapur dimana gak jauh juga dengan kulkas) masih aja teriak dari kamar kalo ngedenger bunyi kelentang kelentung dari dalem kulkas. Bokap gue pernah teriak " Wei, tikusnya tidur dong. Nanti kalau makan terus, bangun2 tikusnya jadi sapi lho ..". Well, gue yang ngedenger dari depan kulkas, langsung berenti mengunyah dan mengendap masuk kamar (dengan tetap membawa sekotak es krim ke kamar).

Balik lagi ke bulan puasa. Puasa kali ini adalah bulan puasa ke empat dimana gue jauh dari orang tua. Awal-awal puasa di Malaysia, gue ngerengek2 di atas kasur, kangen masa-masa puasa di rumah. Kalau di rumah, gue pasti makan makanan yang enak. Pulang tarawih, nyokap pasti menyediakan minuman es-es an segar, termasuk favorit gue nata de coco. Tapi menghadapi kenyataan bahwa gue gak bisa buka dan sahur bareng bokap nyokap disertai makanan-makanan yang enak, gue masih ngerengek di atas kasur. Makanan di Malaysia didominasi oleh kari-karian, berlemak, bersantan. Itu yang membuat puasa gue gak pernah terlalu bergairah, kecuali gairah gue akan sebuah martabak ayam-tanpa-rasa-kari yang enak itu.

Salah satu pengalaman bego gue sewaktu puasa di Indonesia adalah ketika gue berbuka puasa. Saat itu, gue bahagia banget karena kelas sore gue dibatalkan. Gue gak tau alesan yg pasti, tapi itu merupakan sebuah berkah Ramadhan buat gue. Gue ngantuk banget saat itu, ditambah lagi suasana panas yang membuat gue mau meringkuk di atas kasur dengan kipas angin yang diputar full-houseremix (biar rame). Sebelum gue balik, gue memutuskan membeli makanan buat buka puasa.
Sampai di kamar, gue langsung menjalankan rencana awal, buat tidur sampai maghrib.

Bangun-bangun, gue liat jam udah setengah delapan malem. Gue langsung bangun dengan muka sumringah, membuka bungkusan nasi ayam sambel dan membaca do'a. Temen sekamar gue -yang terlihat habis mandi-, masuk ke kamar sambil menjerit. Gue yang lagi asik ngunyah sambil memegang ayam, kaget.
"Lho, kok lu udah buka puasa sih ?" dia masih melongo depan pintu.
Gue masih ngunyah " udah jam brapa nih, setengah 8 lebih. ya buka lah"
"Tapi kan kita di Malaysia, maghribnya jam 8 kurang 20 menitan gitu katanya"
Gantian gue yang ngelongo. Buru-buru gue keluarin makanan yang di mulut gue. Tapi... sedetik kemudian adzan menggema dari masjid kecil asrama. Waktunya buka.

Gue gak tau itu rejeki ato gimana. Gue harus ganti puasa itu ato nggak. Tapi gue kan gak sengaja ya. Hehe (alesan).