
Jika orang mendefinisikan Love sebagai cinta, maka saya mendefinisikan Love sebagai …
****
Kadang kala kita terpaku pada kehidupan yang rutin, penuh dengan jadwal dan aktivitas. Setiap senin pagi upacara bendera di setiap sekolah, setiap Senin sampai Jum’at terpaku pada jadwal kerja. Bangun pagi, mandi. Sarapan kalau sempat. Pergi ke kantor atau ke sekolah. Naik kendaraan umum atau kendaraan pribadi. Duduk di kursi. Mata terpaku pada layar. Entah itu layar elektronik berbentuk monitor computer, atau layar manual seperti adanya papan tulis. Pulang kerja atau sekolah. Makan malam. Tidur. Dan besok kembali lagi seperti itu. Berputar terus sampai nanti tiba akhir masa produktif kita. Kalau menurut pelajaran geografi yang saya terima ketika SD, umur produktif manusia yang berarti umur kerja dengan tingkat produktivitas yang tinggi itu sampai umur 65 tahun. Tapi bagi saya tidak. Umur produktifitas saya menjalani rutinitas terhenti, sampai umur 18 tahun.Kuliah di sebuah universitas negeri apalagi negerinya orang adalah hal yang sedikit membosankan. Kehidupan benar-benar berputar seperti roda yang berjalan pada jalan yang sama. Maju mundur, maju mundur. Awal semester, ujian tengah semester, kumpul tugas, deadline berkejaran, ujian akhir, dapat nilai. Begitu terus, berputar sampai selesai kuliah. Tidak ada yang terlalu menarik dari kehidupan kuliah saya. Saya hanya manusia setengah robot. Saya punya hati dan perasaan, tapi otak dan badan saya terprogram untuk belajar. Cukup mendapat IP yang baik saja sudah puji syukur kepada Tuhan. Saya bukan typical orang yang berani mengambil tantangan untuk berganti alur kehidupan. Sampai akhirnya saya bertemu dia.
*****
Anak baru, freshmen year di kampusku. Seperti lagu Two Better than One-nya Taylor Swift dengan Boys Like Girlsnya, I remember what you wore on your first day. Kemeja putih lengan pendek, celana hitam dan sepatu kets. Dia maju ke depan panggung, mengucapkan namanya diiringi suara tepukan dan teriakan dari para senior. Saya hanya tertawa-tawa , bercanda dengan teman-teman dan berkata “ I like this boy. He’s kind of cute. Maybe I like him. “ Tanpa saya sadari, kalimat yang tiada maksud serius itu benar-benar terjadi. I really like him.
*****
Junior year.
Sapaannya di pagi hari dengan senyuman kudanya membuat saya bahagia. Dia memanggilku kak. Ya, saya baru sadar bahwa dia anak semester baru. Wajar saja masih kikuk memanggil nama para seniornya. Masih samar wajahnya dalam bayangan. Ya, kalau suka dengan orang tentu saja akan terbayang wajahnya terus kan ? Tapi saya belum merasakan apa-apa. Hanya sebatas iseng. Suka saja. Saya masih takut termakan omongan. Omongan “Berondong”. Sebuah kalimat yang mengacu pada anak-anak muda yang disukai oleh orang yang lebih dewasa. Beda kami sebenarnya tidak banyak. Hanya 3 tahun. Toh Cameron Diaz dengan Justin Timberlake saja beda umur, tidak masalah. Tapi saya masih ragu, benar saya suka atau tidak.
*****
Sophomore year.
Dia bermain gitar. Permainannya mencengangkan. Saya tinggal bernyanyi, dia akan mencari kunci gitarnya. Ternyata dia lucu juga. Pintar. Menarik. Binar matanya ceria. Mata saya mulai terbuka. Ada sesuatu yang menarik di balik pribadinya. Dia tidak membosankan, walaupun dia masih terkesan sangat lugu. Saya maklum. Dia masih segar. Tapi saya suka kepolosannya. Diberbagai kesempatan, saya coba untuk mengenalnya lebih dalam. Di saat istirahat, di saat acara kampus, dimana saja. Dia masih memanggilku kak. Saya lalu memberanikan diri untuk berkata “ Gak usah panggil kak. Panggil nama aja cukup.” Walau masih kikuk, dia mencoba memanggilku tanpa kak.
*****
Final Year
Saya benar-benar bahagia, saya melepaskan kesenioritasan saya di matanya tanpa memanggil saya kak. Itu berarti bagi saya, karena berarti tidak ada jurang pemisah antara si senior dan junior. Saya suka itu. Dan saya baru sadari, saya benar suka kepadanya. Dia dengan keluguannya. Dia dengan tawanya yang lepas. Dia dengan candaannya. Dia dengan keseriusannya ketika bermain gitar. Dia dengan kegigihannya dalam belajar. Dia … Dia … Dia dengan parfumnya yang khas, membuat saya mencari di setiap toko, parfum apa yang dia pakai. Saya tidak berani bertanya. Saya bukan orang yang ambil resiko. Semakin lama, saya merasa dia semakin dekat. Tapi itu perasaan saya, bukan perasaan dia. Saya tidak mau ambil resiko besar dengan mengatakan suka. Saya bukan tipe orang seperti itu. Saya pemalu.
*****
Farewell
Dia dengan kacamatanya yang polos, mendekati dan menegur. Senyumnya yang khas dan aroma parfumnya yang segar. Dia mengatakan sedikit salam perpisahan. Mungkin kita akan bertemu lagi lain kali, katanya. Ya, tentu saja, saya akan datang kembali untuk melihatmu, saya bergumam dalam hati. Saya berharap dia akan tetap menjadi dia yang lugu dan dia yang kukenal. Ya. Saya harap. Sampai sekarang saya masih berharap.
*****
Itulah mengapa saya katakan, rutinitas saya terhenti di umur 18. Karena saya bertemu dia. Ya. Dia yang member warna berbeda. Dia tidak memabukkan dengan kata-kata cinta atau rayuan gombal. Dia hanyalah dia dengan senyuman dan binar matanya. Iya dia.
Dan apa definisi Love bagi saya ?
Cinta, karena itu yang tertulis di setiap kamus Bahasa Inggris-Indonesia
Dan apa itu cinta ? Saya masih belum bisa mendefinisikannya.
1 comments:
Sweet. Sungguh aku penasaran sekali :">
Poskan Komentar